Data terhimpun, kejadian longsor tersebut ketika korban dan istrinya tengah berada di pondok kebun yang berjarak sekitar 1 KM dari Desa Kertapati. Dalam kondisi hujan, istri korban keluar pondok menuju sungai Air Tik Besar (Sungai Temiang).
Tak berselang lama, terdengar suara gemuruh dari arah belakang pondok korban. Tanpa diduga, tanah longsoran langsung menimpa pondok dan dalam hitungan detik pondokpun roboh dan dalam kondisi tertimbun tanah.
Korban Rahudin yang semula duduk di teras pondok, diduga tak sempat menyelamatkan diri dan ikut tertimbun tanah longsoran. Melihat kejadian tersebut, istri korban mencoba mencari pertolongan. Namun, jalan satu-satunya yakni dengan menyeberang sungai tak dapat dilalui Timarna, pasalnya kondisi sungai Temiang banjir akibat derasnya hujan.
Dalam kondisi kedinginan serta kebingungan Timarna pun menunggu jasad suaminya yang tertimbun longsor di bawah pohon di kawasan perkebunan miliknya. Sekitar pukul 06.00 WIB, Minggu (12/4) salah seorang warga Tamlaka (45) yang berkebun di seberang sungai dikejutkan dengan teriakan Timarna. Curiga, kemudian Tamlaka menyeberang sungai dan mendapatkan pondok korban dalam keadaan tertimbun tanah longsoran.
Tamlaka kemudian meminta pertolongan warga Desa Kertapati, setelah dilakukan penggalian akhirnya sekitar pukul 08.00 WIB jasad korban dapat dievakuasi dan dalam keadaan tak bernyawa. Jasad korban kemudian dibawa kerumah duka untuk disemayamkan dan dikebumikan.
“Memang di belakang pondok berjarak sekitar 75 meter terdapat tebing dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Dan cukup tinggi, diduga karena diguyur hujan, tebing tersebut longsor dan menimpa pondok korban.
Tetapi karena kondisi air sungai yang besar dan tak dapat diseberang, sehingga warga baru mengetahui kejadian tersebut setelah korban tertimbun sekitar 12 jam,” ujar Sekcam Pagar Jati, Sapanudin Dersan yang ikut serta dalam evakuasi korban. (set)
Senin, 20 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar