Featured Article
Tampilkan postingan dengan label Kliping Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kliping Media. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2009

Keluhan masyarakat Bengkulu terhadap Air Bengkulu

Kalau dulu pas saya berumur sekitar 2 tahun, kata emak dan bapak air bangkahulu masih bisa dimanfaatkan untuk air minum dengan cara ngambil langsung di sungainya. pas saya udah masuk SD cuma yang dari PDAM bisa dimanfaatkan, itu pun karena teknisinya bagus sehingga air ngak baun tawas sedikitpun dan airnya pun jernih. tapi kalo sekarang untuk nyuci motor aja jangan sampe karena bisa buat motor kita karatan. apa lagi kalo sampe dikonsumsi, mungkin perut kita nanti yang karatan. jika ditanya sama penduduk yang ngambil batu bara disungai pas keluar dari sungai kulit mereka gatal-gatal.... hal ini yang perlu juga dicari penyebabnya ku rasa.

Di tulis oleh Doni Aprizal angkatan 2002 Jurusan kehutanan universitas Bengkulu


Minggu, 28 Juni 2009

Dialog Pengelolaan DAS di BTV Forum

Hari kamis, 5 Juni 2008 pukul 15.00 Wib Ulayat mengadakan dialog BTV forum bertempat di Rumah Makan Utan Kayu Kota Bengkulu. Hadir sebagai narasumber yaitu Mintarjo (Kepala BPDAS Ketahun), M. Nashyah (Kepala BAPEDA Propinsi Bengkulu), Muhamad HM Rusly (Kepala Balai Sumber Daya Air Wilayah Sumatera VII), Samsu Nurmuin (pakar sumber daya air dari Universitas Bengkulu), dan Oka Andriansyah (Direktur Eksekutif Ulayat). BTV Forum yang bertepatan dengan hari lingkungan hidup sedunia kali ini ini mengangkat tema “Menggagas Sinergi Pengelolaan DAS Air Bengkulu” .
Dialog ini bertujuan ; (1) membedah persoalan seputar kondisi DAS Air Bengkulu baik dalam aspek ekologis, sosial dan kelembagaan; dan (2) menggugah para pihak yang berkepentingan untuk mewujudkan keterpaduan pengelolaan sumber daya air di DAS Air Bengkulu

LATAR BELAKANG

UU No. 7 tahun 2004 tentang sumber daya air telah mengamanatkan perlu diImplementasikannya secara konsisten prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya air yang terpadu (integrated water resources management/IWRM). Dalam pengertian tersebut pengelolaan sumberdaya air, termasuk pengelolaan sungai perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:

* memberikan manfaat kepada publi k secara efektif dan efisien;
* mempertemukan keseimbangan kepentingan dan harmonisasi antara aspek sosial, ekonomi, dan prinsip keseimbangan lingkungan hidup;
* keberlanjutan, keadilan, dan otonomi; serta
* transparansi dan akuntabilitas, serta menjamin terjadinya keterbukaan terhadap adanya proses akuntabilitas publik.

UU No. 7 tahun 2004 tentang sumberdaya air p a sal 82,82, dan 84 mengamanatkan tentang hak dan kewajiban masyarakat. Beberapa hak dan kewajiban masyarakat yang diatur diantaranya: (1) bahwa masyarakat berhak atas informasi pengelolaan sumberdaya air; (2) berhak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialaminya; (3) menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan sumberdaya air; (4) mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah sumberdaya air yang merugikan kehidupan; (5) masyarakat berkewajiban memperhatikan kepentingan umum dalam konservasi, perlindungan dan pengamanan prasarana sumberdaya air.

Untuk mengantisipasi penerapan hak dan kewajiban masyarakat tersebut dalam implementasinya diperlukan pemahaman yang seimbang baik di tingkat pemerintah/pemerintah daerah dan tingkat masyarakat. Dengan demikian dalam pengelolaan sumberdaya air, pihak manapun perlu memperhatikan adanya hak dan kewajiban masyarakat tersebut.

DAS Air Bengkulu terletak di Kabupaten Bengkulu Utara di bagian hulu dan Kota Bengkulu di bagian hilir, dengan luas areal 51.500 ha terdiri dari 3 Sub-DAS yaitu sub-DAS Susup seluas 9.890 ha, sub-DAS Rindu Hati 19.207 ha, dan sub-DAS Air Bengkulu Hilir 22.402 ha. Kawasan DAS ini memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat Bengkulu.

Degradasi ekosistem DAS Air Bengkulu terlihat dari banjir tahunan di wilayah kota Bengkulu dan menurunnya kualitas air sungai. Sungai Air Bengkulu tercemar oleh limbah industri, terutama oleh limbah pengololahan batubara dan pabrik karet. Sampel air yang dikumpulkan oleh PDAM Kota Bengkulu mengindikasikan tingkat chromium 30 kali dari tingkat yang diperbolehkan. Chromium merupakan limbah yang berasal dari pertambangan batubara yang terbuka. Kadar kalsium dan copper juga sangat tinggi. Limbah-limbah ini mempengaruhi kondisi kesehatan manusia, dimana hampir 30% dari total masyarakat kota Bengkulu mendapat pasokan air minum melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Dialog ini menghadirkan unsur birokrasi yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air dan dari masyarakat sipil (LSM dan akademisi) yang memiliki kepedulian terhadap persoalan DAS Air Bengkulu. Pembicara pertama dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Propinsi Bengkulu. Dalam era desentralisasi ini peran Pemda dalam pengelolaan DAS sangat menentukan. Kebijakan pembangunan dan Tata Ruang Wilayah di suatu daerah sangat menentukan kondisi suatu DAS. DAS Air Bengkulu berada di dua kabupaten/kota, yang dalam UU No. 7 2004 dinyatakan bahwa kewenangan koordinasi pengelolaannya berada di tingkat propinsi.

Pembicara kedua dan ketiga adalah dari instansi vertikal dari dua departemen yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air, yaitu Balai Sumber Daya Air Wilayah Sumatera VII (UPT Ditjen Sumber Daya Air Departemen PU) dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Ketahun (UPT Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan). Pembicara keempat dan kelima adalah unsur LSM dan pakar/perguruan tinggi, dimana masyarakat sipil (civil society ) adalah komponen penting dalam pengelolaan sumber daya air terpadu.

Kelima narasumber memaparkan permasalahan seputar DAS Air Bengkulu dalam aspek ekologi, sosial dan kelembagaan, dan menyampaikan pesan untuk membangun sinergi seluruh stakeholder dalam pengelolaan DAS Air Bengkulu.

Bicara sungai di “Pro Anda & Listener Solution Pro2 FM”

Pada tanggal 06 juni 2008 pukul 15.00-16.00 WIB Ulayat tampil sebagai pembicara dalam acara “Pro Anda dan Listener Solution” di RRI Pro 2 FM disiarkan secara langsung melalui chanel 105.1 Mhz yang beralamat di Jalan Letjen S. Parman No.25 Kota Bengkulu. Dalam kesempatan kali ini Ulayat memaparkan beberapa persoalan terkait dengan DAS air Bengkulu, dimana diketahui sampel air PDAM Kota Bengkulu mengindikasikan tingkat chromium yang ada pada kandungan Air DAS Bengkulu jauh melebihi ambang batas dari tingkatan yang diperbolehkan untuk memenuhi standar normal.
Chromium sendiri merupakan limbah yang berasal dari pertambangan batubara, selain itu kandungan Kalsium dan copper juga memiliki kandungan yang sangat tinggi dari ambang batas normal yang berasal dari limbah pabrik karet yang tidak ramah lingkungan. Hal ini tidak hanya berdampak pada pencemaran lingkungan saja karena berdasarkan penelitian kandungan zat ini pun berdampak pada kesehatan manusia.

Kurang lebih 30% dari total masyarakat kota Bengkulu mendapat pasokan air minum melalui perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang bersumber pada DAS Air Bengkulu. Persoalannya adalah Informasi mengenai pencemaran air minum dari sungai Bengkulu ini belum tersampaikan kepada masyarakat. Sebenarnya instansi-instansi yang berkepentingan seperti Dinas kehutanan, BPDAS, BAPEDA di Kota Bengkulu ini sudah bekerja pada sektor masing-masing, akan tetapi belum berjalan secara sinergis.

Ulayat sebagai organisasi non pemerintah mengajak pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan kawan-kawan aktivis di bengkulu untuk bersama-sama membangun kebersamaan dalam pengelolaan DAS bengkulu secara terpadu dan berkelanjutan.

SUNGAI BENGKULU SEMAKIN KRITIS

DAS Air Bengkulu adalah salah satu DAS (Daerah Aliran Sungai) yang terdapat di Provinsi Bengkulu. DAS yang memiliki luas areal sekitar 51.500 ha sampai saat ini banyak sekali dimanfaatkan oleh masyarakat Bengkulu dari hulu sungai hingga hilir atau muara sungai. Namun sangat disayangkan, banyaknya orang yang masih ketergantungan dengan aliran sungai ini tidak diikuti dengan banyaknya orang yang sadar untuk menjaga keberadaan dan kelestarian air yang ada di sungai tersebut.

Ada tiga sub-DAS yang mengalir ke DAS Air Bengkulu, yaitu Sub-DAS Susup seluas 9.890 ha, Sub-DAS Rindu Hati 19.207 ha dan Sub-DAS Air Bengkulu Hilir seluas 22.402 ha.

Seminggu yang lalu saya sempat mencoba menyusuri keberadaan DAS Air Bengkulu ini dari hulu hingga hilir. Salah satu hulu DAS Air Bengkulu yang berada di sebuah desa kecil yang agak menjorok kedalam yang terdapat di Kecamatan Taba Penanjung, Bengkulu Tengah (Beberapa bulan yang lalu masih tergabung didalam Kabupaten Bengkulu Utara) yaitu Desa Rindu Hati. Nama desa yang sangat gampang diingat.

Di desa ini saya bisa menikmati jernihnya air sungai yang mengalir dengan tenang. Seakan air ini sangat senang berada di desa tersebut. Pagi yang cerah saat itu. Suara burung yang ribut membuat suasana pagi ini serasa lengkap. Masyarakat desa sudah mulai satu persatu berangkat ke ladang dan ke sawah yang berada tak jauh dari desa. Menyebrangi sungai yang ada dibelakang desa. Berjalan kaki tanpa alas kaki mengikuti jalan setapak yang berada disepanjang sungai. Terlihat sekali mereka hidup sangat harmonis dengan air sungai yang ada disana.

Di Desa Rindu Hati yang mayoritas penduduknya adalah Suku Rejang ini terdapat 6 anak sungai dan mungkin puluhan atau ratusan mata air. Anak-anak sungai yang ada ini akhir menyatu ke sungai besar yang ada di hulu kampung, yaitu Sungai Bengkulu.

Konon katanya di Desa Rindu Hati ini adalah keturunan para raja dari Raja Sungai Serut. Awal dari semua ini karena Putri Dayang Perindu melarikan diri dari Muara Bengkulu ke Hulu Sungai (yang berada di Desa Rindu Hati saat ini). Sang Putri melarikan diri karena tidak mau dijodohkan dengan para raja yang berasal dari Aceh. Setelah melarikan diri, sang kakak dan beberapa orang kerajaan menyusul keberadaan putri ke hulu sungai. Sebelum menyusul sang putri, sang putri sempat memberikan pesan yaitu “jika ingin menyusulnya, bawalah satu ekor ayam dan satu ekor burung terkukur. Jika ayam dan burung tersebut berbunyi, berhentilah disitu dan buatlah desa. Saya akan tinggal disitu”. Ayam dan burung tersebut berbunyi ketika mereka sampai dilokasi Desa Rindu Hati sekarang. Disitulah mereka membuat desa. Dan Itulah awal mula Desa Rindu Hati.

Berada didesa Rindu Hati memang sangat menyenangkan. Selain suasana kampung yang masih asli juga terdapat sawah yang menghijau dengan dilatar belakangi oleh bukit-bukit. Desa ini memang berada di lembah didataran tinggi Bengkulu.

Selama dua malam berada di Desa Rindu Hati membuat saya sedikit paham dan mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi di desa ini mengenai upaya untuk penyelamatan hulu sungai. Pertama, sulitnya mengotrol masyarakat pendatang yang berada dihulu untuk tidak merusak keberadaan hutan disepadan sungai dan dihulu. Kedua, pendapatan masyarakat yang hanya mengenal sistem pertanian yang terkadang kurang paham dengan masalah ekologis yang akan ditimbulkan jika membuka sebuah chatment area atau daerah tangkapan air. Tiga, tidak adanya peranan pemerintah untuk mengajak dan mengatur pola perkebunan masyarakat serta mengajak untuk peduli terhadap pentingnya kawasan hulu sungai.

Kondisi hulu sungai sangat berbeda dengan kondisi di hilir. Setelah dari hulu saya mencoba mengikuti aliran sungai ini sampai ke hilir, yaitu muara didekat lokasi pantai panjang. Setelah keluar dari Desa Rindu Hati dan di Pasar Taba Penanjung, air sungai ini masih cukup bersih. Tapi kondisi air sangat berbeda setelah berada di sebuah desa, klo tidak salah Desa Kancing. Warna air sudah berwarna cokelat dan butek. Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang menyebabkan kondisi air ini keruh. Apakah benar karena ulah beberapa pertambangan batu bara yang ada di Taba Penanjung, limbah beberapa pabrik karet, atau karena limbah rumah tangga yang berada disepanjang sungai.

Yang membuat saya cukup prihatin adalah, air sungai yang butek ini adalah sumber air yang diambil oleh PDAM Bengkulu untuk dialirkan kepada konsumen sebagai sumber air bersih bagi warga kota Bengkulu. Sekitar 30% penduduk Kota Bengkulu menggunakan sumber air yaitu air PDAM. Dulunya mungkin air ini masih jernih dan bersih, itu mangkanya sumber air diambil dari sini. Belanda membangun sumber air disitu sekitar tahun 1928. PDAM hanya mewarisi dan melanjutkan usaha untuk penyaluran sumber air bersih.

Banyaknya pencemaran yang terjadi disepanjang aliran sungai ini membuat kondisi air PDAM saat ini sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. Hal inilah yang membuat PDAM membutuhkan biaya produksi yang lebih untuk membersihkan dan menetralkan air yang mereka ambil dari Sungai Air Bengkulu. Inipun kualitas airnya masih belum bagus. Biaya produksi permeter kubiknya dikabarkan sudah jauh diatas biaya jual. PDAM yang seharusnya bisa menjadi salah satu pendapatan daerah sekarang justru tidak berarti apa-apa bagi Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sungguh ironis.

Aliran sungai Air Bengkulu sebenarnya tidak terlalu panjang dan peluang untuk melakukan penyelamatan keberadaan sungai ini sangat besar. Hanya dibutuhkan sebuah niat saja. Niat untuk mau bersama-sama menyelamatkan keberadaan DAS Air Bengkulu. Ulayat tidak akan mampu melakukannya sendiri. PDAM tidak akan mampu melakukannya sendiri. Apalagi Bapedal dan dinas-dinas yang ada di provinsi Bengkulu (Pemerintah Bengkulu Kota dan Kabupaten), tidak akan ada harapan mengharapkan merekamelakukan itu.

Sekarang limbah pabrik, limbah pertambangan dan limbah lainnya sudah semakin banyak yang masuk kedalam aliran sungai. Air sungai semakin lama semakin tercemar. Konsumen PDAM semakin gundah dan resah akan kondisi air yang mereka terima.

Saya tidak tahu kejadian seperti apa yang bisa membuat aparat Pemerintah Bengkulu ini bisa ngeh dan sadar betapa pentingnya sumber air baku bagi masyarakatnya. Mayarakat Bengkulu ini bisa sadar pentinganya air bagi kehidupan. Mungkin perlu ada kejadian dimana masyarakatnya terserang berbagai penyakit diare dan penyakit lainnya karena kekurangan sumber air bersih dan dilanda banjir atau kekeringan yang sangat hebat. Atau nunggu Gubernur dan Wakil Gubernurnya serta pejabat-pejabat itu sakit diare dulu. Mungkin ngga sih??

Padahal semua tahu mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Mengapa kita harus ada shock terapy dulu baru sadar ya?. Musti ada bencana dulu baru ada tindakan.

Lets do Now!!!. Lakukanlah sekarang sebelum terlambat.

Masyarakat Desa Rindu Hati sebenarnya hampir sama dengan masyarakat desa dibanyak tempat di nusantara ini. Jika ada niat baik dari kita untuk memberitahukan peranan penting dalam upaya penyelamatan lingkungan dan adanya peranan aktif dan dukungan dari pemerintah lokal tentu akan membuat masyarakat tersebut senang dan tentu akan membuat usaha untuk menyelamatkan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat akan berjalan baik. Perlu kerjama antara hulu dan hilir DAS Air Bengkulu.

Inilah yang menjadi salah satu permasalahan utama betapa sulitnya upaya untuk penyelamatan lingkungan dinegara kita tercinta ini. Tidak adanya kerjasama!!. Semua berjalan sendiri. Sibuk dengan kerjaan masing-masing. Padahal pengetahuan dan kemampuan disetiap orang, disetiap lembaga dan disetiap instansi adalah terbatas. Semua masih sibuk dengan egonya masing-masing. Termasuk kita.
http://berangberang.blog.friendster.com/tag/das-air-bengkulu/

Senin, 11 Mei 2009

Drainase Mampet, 40 Rumah Kebanjiran

Seperti diungkapkan, Rizkan (42), warga RT 1 Penurunan serta Sakirun (52) dan Meri Darmansyah (30), warga RT 9 Kebun Beler, kepada RB kemarin. Penyebabnya, diperkirakan drainase di Kelurahan Penurunan tersebut mapet oleh sampah dan eceng gondok. Apalagi, sejak dua tahun terakhir tidak pernah dikeruk atau dibersihkan. Padahal, drainase tersebut menampung air dari Simpang Lima, Kebun Kenanga, Skip hingga Tanah Patah.

“Apalagi saat pasang naik, ditambah hujan 15 menit saja langsung banjir. Air baru akan surut berjam-jam setelah banjir. Kalau musim hujan, kami jadi langganan kena banjir. Padahal dulu, sebelum ada drainase itu, kami tak pernah kebanjiran,” keluh Rizkan.

Kalau pun terjadi banjir, timpal Meri Darmansyah, disebabkan belum dibongkarnya gorong-gorong di bawah jembatan Pantai Panjang. Dengan diameter kurang dari 2 meter, kerap menjadi tempat tersangkutnya sampah atau kayu. Sehingga, limpahan air ke laut menjadi tertahan. “Air jadi berbalik membanjiri rumah warga,” timpal Meri Darmansyah.

Sejak dibangun jembatan baru, gorong-gorong tersebut tidak lagi berfungsi. Malah menjadi penghambat lajunya air buangan dari daratan ke laut. “Setiap hujan, bisa dipastikan terjadi banjir. Tinggal tinggi-rendahnya air hingga lama dan sebentarnya air surut. Kondisi ini sudah merepotkan warga,” imbuh Meri Darmansyah.

Warga berharap, Pemkot segera mengambil tindakan. Dengan melakukan pembersihan drainase di Penurunan. Jika mampu, membongkar gorong-gorong sisa jembatan lama. “Kita berharap, Walikota merespon keluhan warga ini,” harapnya.

Terpisah, Ketua Komisi II yang juga anggota Panitia Anggaran (Panggar) DPRD Kota, Irman Sawiran menyatakan, meski tidak ada item terperinci, namun dianggarkan dana Rp 1 M untuk kegiatan cuci siring/drainase.

Selain perencanaan dari Dinas PU Kota sendiri, cuci siring juga bisa berdasarkan permintaan warga. “Berbeda dengan jalan yang sudah diplot, lokasi mana saja yang harus diperbaiki. Kalau siring mampet ini, bersifat kebutuhan masyarakat. Hendaknya, masyarakat melaporkan ke Dinas PU Kota, agar siring mapet bisa segera dibersihkan,” kata Irman Sawiran.

Sementara, Kabag Humas Pemkot, Drs. Bahrum Simamora menegaskan, pihaknya akan berkoordinasi dengan di Dinas PU Kota. Apakah kegiatan cuci siring/drainase di Kelurahan Penurunan sudah masuk atau belum. “Aspirasi warga kita tampung untuk ditindaklanjuti. Memang, anggaran APBD saat ini sedang dipersiapkan administrasinya untuk pelaksanaan,” ungkap Bahrum Simamora.

Senin, 20 April 2009

Bantuan Banjir Rp 30 Juta “Ngendap”

Alasannya, menurut Lurah Tanjung Agung, B. Arasman jumlah petani yang terkena dampak banjir mencapai 87 orang. Tak ingin muncul konflik, uang tersebut sengaja belum dibagikan. Itu pun sudah berdasarkan kesepakatan warga.

Kekurangan dana Rp 57 juta untuk 57 orang petani sudah diusulkan ke Gubernur Jumat (17/4) lalu. Saat menyalurkan bantuan, Gub mewanti-wanti bahwa uang bantuan hanya diperuntukkan bagi petani yang sawahnya mengalami kerusakan akibat terendam air. Dengan ketentuan, setiap petani mendapatkan bantuan sebesar Rp 1 juta.


“Untuk sementara, uang bantuan Pak Gub disimpan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat atau LKMD, Junaidi. Insya Allah, kekurangannya bisa diakomodir Pak Gubernur. Sesuai instruksi Pak Gubernur, kalau ada kekurangan maka segera dilaporkan. Ternyata, setelah kita melakukan pendataan, ada sekitar 87 petani yang sawahnya terendam air banjir. Sebagian dari sawah tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Ada yang mulai menguning dan sebagian lainnya layu,” ungkap Arasman.

Bagaimana jika tidak? Dikatakan, keputusan tentang pemanfaatan bantuan tersebut akan diserahkan ke petani Tanjung Jaya. Dikatakan, wacana yang berkembang saat ini, bila tidak ada penambahan bantuan maka besar kemungkinan kalau dana bantuan yang sudah ada tersebut akan dibagi rata. Bila itu terjadi maka setiap petani akan mendapatkan bantuan sebesar Rp 344.827 per petani. Namun tidak tertutup kemungkin ada solusi lain, tergantung kesepakatan rapat petani nantinya.

Bila mengacu pada perkataan pak Gub, seharusnya setiap petani mendapat bantuan sebesar Rp 1 juta. Tapi kalau dibagi rata maka bantuan diterima menjadi lebih kecil. Kurang dari Rp 345 ribu per orang, beber Arasman.

Sekadar mengingatkan, gub memberikan bantuan sebesar Rp 30 juta kepada petani yang sawahnya terendam banjir pada pekan kedua April kemarin atau tak lama setelah Pemilu 9 April 2009. Bantuan diserahkan disela-sela aktivitas gubernur memantau korban banjir yang rutin terjadi di Kelurahan Tanjung Jaya.

Seandainya memang perlu dilakukan peninjauan lapangan atas penambahan jumlah petani yang mengalami kerugian akibat sawahnya terendam banjir, tentu akan lebih baik, demikian Arasman.(beb)

Banjir, Gubernur Bengkulu Tabur Uang

Bantuan uang tunai Rp 30 juta, secara simbolis diserahkan gubernur ke Lurah Tanjung Jaya, B. Arasman. Khusus petani yang sawahnya gagal panen mendapat alokasi sebesar Rp 1 juta per orang terpisah dalam amplop. Sementara puluhan anak-anak kecil hingga usia sekolah juga mendapat bantuan ‘dadakan’ dari gubernur berupa uang tunai Rp 50 ribu per orang.

Gub kemarin didampingi Asisten II Pemprov Ir H. Fauzan Rahim, Dinmar Najamudin dan jajaran. “Ingat ya pak, bantuan ini khusus untuk petani yang sawahnya terendam banjir. Nanti saya mohon bapak buat catatan tentang siapa saja warga yang sawahnya rusak akibat banjir dan sampaikan laporannya ke staf saya,” pinta Gub pada Lurah Tanjung Jaya saat menyerahkan bantuan.


Untuk diketahui, sebelumnya lebih dari 210 rumah di kawasan Tanjung Jaya dan sekitarnya terendam banjir pasca hujan deras selama 7 jam pada Sabtu (11/4) malam kemarin. Senin siang, permukaan air sudah mulai menyusut. Namun sekitar 50 hektare sawah masih terendam. Termasuk jalan raya Tanjung Jaya.

“Banjir, biasanya membawa kotoran berupa sampah hingga oli bekas. Nah, kerusakan tanaman padi dikarenakan oli bekas tersebut. Tanaman akan menguning dan mati,” ujar Arasman.

Terkait seringnya kawasan Tanjung Jaya tergenang air tak lama setelah hujan, mungkinkah dilakukan relokasi warga? “Saya sangat bersyukur kalau warga mau direlokasi. Kan, beberapa tahun lalu sudah memberi ganti rugi tapi warga malah kembali lagi ke rumahnya yang sekarang. Kalau memang benar warga mau pindah, nanti lokasi langganan banjir ini akan diubah menjadi kawasan pertanian,” ujar gubernur.

Untuk mengatasi bajir, Pemprov akan mengupayakan pembuatan DAM serta saluran pembuangan air ke laut sebagaimana yang dilakukan di kawasan Lempuing dan Kebun Beler. Hanya saja, rencana ini akan dilakukan bertahap karena dananya bersumber dari APBN. Pembangunannya pun akan dikoordinasikan ke Pemkot.

Mobil Batubara Dilarang Lewat Danau Dendam

Usai meninjau kawasan banjir, Gubernur menuju kawasan wisata Danau Dendam Tak Sudah yang berjarak tempuh sekitar 10 menit dari lokasi banjir. Di lokasi tersebut, gubernur memeriksa dua pintu saluran pembuangan air dari danau Dendam Tak Sudah serta memeriksa saluran pembuangan air serta tanggul yang di atasnya berdiri sejumlah warung.

“Kami tidak akan digusur kan pak? Tolong jangan pindahkan kami pak. Bagaimana kami mau makan nanti,” bujuk sejumlah ibu-ibu saat didekati gubernur. Kontan Gub dan rombongan pun tersenyum dan memasyikan dirinya hanya mencermati tanggul dan saluran pembuangan air.

Belajar dari tragedi Situ Gintung, Gubernur memastikan bahwa dalam waktu dekat truck batu bara tidak diperkenankan melintasi jalan Danau Dendam Tak Sudah. “Nanti akan kita buat portal. Truck batu bara dan mobil besar tidak diperbolehkan lewat. Kalau dibiarkan, kita khawatir tanggul akan jebol dan menyebabkan tragedi mirip Situ Gintung tapi ala Bengkulu,” ujar gubernur.

Warga Tanjung Agung Butuh Tenda

Warga Tanjung Agung yang sudah 3 hari kebanjiran membuat tenda darurat di pinggir jalan. Ini dilakukan mengantisipasi banjir susulan yang akan terjadi, jika hujan terus mengguyur kota seminggu ini. Warga yang rumahnya terendam, meminta bantuan tenda.

Seperti diungkapkan Warga RT 4, Ujang Sudri. Sebab rumahnya hingga kemarin masih terendam banjir, hingga 65 centimeter. Alhasil dia bersama keluarga dan tetangga terpaksa tidur di pinggir jalan, menggunakan tenda darurat.

“Tenda ini kami sewa sebab kalau tidak seperti itu, kita mau tidur dimana. Makanya yang saat ini sangat dibutuhkan, bukan makanan tetapi tenda untuk berteduh. Kalau soal makanan, kit masih bisa usahan. Sebab untuk memasak masih ada kompor yang bisa dibawa keluar rumah. Tapi kalau untuk berteduh, tidak mungkin numpang dirumah tetangga,” tutur Ujang.

Jika tenda diberikan, begitu banjir datang warga tidak perlu menyewa lagi. Menurutnya jika tersedia tenda, paling tidak saat banjir tiba warga langsung mendidirikan tenda. Dengan kapasistas cukup menampung warga yang rumahnya terendam.

“Kalau bantuan makanan, kami rasa belum terlalu penting. Sebab masih ada persiapan makanan untuk dimasak. Tapi kalau tempat berteduh, itu sangat penting. Terutama untuk anak-anak, karena meteka tidak mungkin tidur di tempat dingin. Bisa-bisa banyak penyakit yang kambuh, seperti malaria, tipes atau yang lainnya. Tapi bukan berarti kami tidak butuh makanan,” tukas Ujang.

Kawasan RT 4 ini, termasuk kawasan yang parah terendam banjir. Dari hasil pengamatan RB, kemarin pada pukul 16.00 WIB air sudah mulai surut hingga 50 cm. Bahkan banyak rumah yang sudah kering dari air. Namun di RT 4 air masih menggenangi rumah warga setinggi lutut orang dewasa.

Kawasan lain seperti Perumahan Korpri banjir yang sempat setinggi 1 meter, sudah terlihat surut. Begitu disampaikan Warga RT 3, Riza. “Kemarin memang sempat 1 meter, bahkan jalan masuk juga terendam air. Tapi pas malamnya sudah turun hingga siang ini kering. Tapi memang masih meninggalkan bau anyir bekas banjir. Tapi sejauh ini kondisi warga masih baik-baik saja,” ungkapnya.

Meski air di sebagian rumah sudah mulai surut, namun sawah dan rawa di kawasan tersebut masih terendam air. Bahkan jalan masuk Kantor Lurah, masih terendam hingga 75 centimeter. Hasilnya jalan tersebut, tidak dapat dilewati oleh kendaraan bermotor. Bahkan warga setempat, sempat menemukan ular keluar dari air.

Sementara di Sawah lebar baru, bantuan dari Dinas Sosial sudah diberikan. Baik berupa terpal, panci, beras, sarden, kecap mie. Manurut ketua RT 4, Bahrin (48) bantuan ini diberikan kepada warga yang rumahnya terendam sebanyak 18 rumah.

“Bantuan ini sudah kita bagikan ke warga. Tapi kita belum mendirikan tenda atau dapur umum. Sebab warga yang ruymahnya terendam, masih ngungsi dirumah keluarga merekas. Hanya saja, terpal yang diberikan, tetap saya simpan berjaga-jaga kalau banjir semakin tinggi,” ungkap Bahrin.

Namun ia memperkirakan, jika hujan kembali terjadi. Maka rumah warga yang terendam akan terus bertambah. Namun diharapkan agar hal tersebut tidak terjadi. “Tapi kita tetap terus harus siaga, karena air masih menggenangi rumah warga. Namun saat ini air sudah mulai surut hingga 75 centimeter, padahal malam tadi (12/4) air mencapai 2 meter,” demikian Bahrin.

Hujan dan Badai Sampai 20 April

Hujan disertai badai diperkirakan akan berlangsung hingga 20 April 2009 mendatang. Dari data yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Klimatologi Kl. II Pulau Baai Bengkulu, hari ini (15/4) diperkirakan hujan masih akan berlangsung. Pada citra satelit cuaca terlihat adanya tekanan rendah di Samudera Hindia Barat Daya Bengkulu.

Diperkirakan cuaca berawan hingga hujan dengan intensitas hujan ringan (0,1 – 5 mm per jam) hingga sedang (5 – 10 mm per jam). Dengan suhu udara 24 – 32 derajat celcius, kelembaban udara 69 – 97 persen.
Diperkirakan gelombang laut dengan tinggi 1,5 m sampai dengan 2,5 m berpeluang terjadi di Perairan Bengkulu. Samudera Hindia Barat Daya Bengkulu, Perairan Enggano dan Samudera Barat Daya Enggano. Ini berbahaya bagi perahu nelayan dan tongkang.

Observer BMG Stasiun Klimatologi Kl. II Pulau Baai Bengkulu, Muhammad Nasir, ketika ditemui RB tadi malam (14/4) mengatakan, hujan ringan (0,1 – 5 mm per jam) hingga sedang (5 – 10 mm per jam) dan kadang-kadang lebat (10 – 20 mm per jam) diserta angin kencang dan petir diperkirakan akan terjadi hingga 16 April 2009.

“Hingga tanggal 16 April 2009 diperkirakan terjadi hujan ringan hingga sedang, kadang-kadang lebat diserta angin kencang dan petir masih akan berlangsung. Sedangkan tanggal 17 – 20 April 2009 hujan masih akan terjadi. Diperkirakan terjadi hujan ringan hingga sedang. Namun potensi angin kencang tetap ada,” ujar Nasir.

Angin kencang dan hujan lebat, lanjut Nasir berpotensi terjadi. Hal ini dilihat dari perkumpulan atau pertumbuhan awan konvektif yang bergerak. Dilihat dari pertumbuhan awan yang terlihat di satelit berpotensi hujan yang dapat memicu hujan dalam waktu yang lama.

“Potensi angin kencang ini terjadi dari perkumpulan atau pertumbuhan awan konvektif yang bergerak. Dari pertumbuhan awan yang terlihat di satelit yaitu awan konvektif (Commulusnimbus) dan awan menengah. Yang berpotensi hujan yaitu awan altostratus yang dapat memicu hujan dalam waktu yang lama,” jelas Nasir.(beb/jur/rei)

12 Jam Tertimbun, Warga Kertapati Tewas

Data terhimpun, kejadian longsor tersebut ketika korban dan istrinya tengah berada di pondok kebun yang berjarak sekitar 1 KM dari Desa Kertapati. Dalam kondisi hujan, istri korban keluar pondok menuju sungai Air Tik Besar (Sungai Temiang).

Tak berselang lama, terdengar suara gemuruh dari arah belakang pondok korban. Tanpa diduga, tanah longsoran langsung menimpa pondok dan dalam hitungan detik pondokpun roboh dan dalam kondisi tertimbun tanah.


Korban Rahudin yang semula duduk di teras pondok, diduga tak sempat menyelamatkan diri dan ikut tertimbun tanah longsoran. Melihat kejadian tersebut, istri korban mencoba mencari pertolongan. Namun, jalan satu-satunya yakni dengan menyeberang sungai tak dapat dilalui Timarna, pasalnya kondisi sungai Temiang banjir akibat derasnya hujan.

Dalam kondisi kedinginan serta kebingungan Timarna pun menunggu jasad suaminya yang tertimbun longsor di bawah pohon di kawasan perkebunan miliknya. Sekitar pukul 06.00 WIB, Minggu (12/4) salah seorang warga Tamlaka (45) yang berkebun di seberang sungai dikejutkan dengan teriakan Timarna. Curiga, kemudian Tamlaka menyeberang sungai dan mendapatkan pondok korban dalam keadaan tertimbun tanah longsoran.

Tamlaka kemudian meminta pertolongan warga Desa Kertapati, setelah dilakukan penggalian akhirnya sekitar pukul 08.00 WIB jasad korban dapat dievakuasi dan dalam keadaan tak bernyawa. Jasad korban kemudian dibawa kerumah duka untuk disemayamkan dan dikebumikan.

“Memang di belakang pondok berjarak sekitar 75 meter terdapat tebing dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Dan cukup tinggi, diduga karena diguyur hujan, tebing tersebut longsor dan menimpa pondok korban.

Tetapi karena kondisi air sungai yang besar dan tak dapat diseberang, sehingga warga baru mengetahui kejadian tersebut setelah korban tertimbun sekitar 12 jam,” ujar Sekcam Pagar Jati, Sapanudin Dersan yang ikut serta dalam evakuasi korban. (set)

80 Hektare Sawah Gagal Panen

Keempat Kelurahan tersebut masuk wilayah Kecamatan Sungai Serut. Diperkirakan kerugian mencapai jutaan rupiah. Jika tak terendam banjir, diperkirakan 1 – 2 bulan lagi sawah-sawah tersebut akan panen.

Pantauan RB di lokasi sore kemarin, batang padi sudah tak terlihat lagi alias ditenggelamkan banjir. Hal ini kemarin diakui Camat Sungai Serut, Ibrahim Lukani. Diakuinya, setiap banjir sawah petani tersebut selalu terendam banjir. Beberapa kali banjir terjadi saat petani akan memanen padinya.


“Khusus di Tanjung Jaya saja ada 50 hektare dan Sukamerindu 30 hektare yang siap panen. Sisanya ratusan hektare sawah di Sukamerindu dan Tanjung Jaya padi mulai berisi. Akibat banjir ini, otomatis sawah-sawah itu akan gagal panen. Kalau kerugiannya masih dalam penghitungan,” ungkap Ibrahim.

Sementara itu pemukiman penduduk yang terendam kemarin mencapai 6 kelurahan. Masing-masing Sukamerindu, Sawah Lebar Baru, Tanjung Agung, Bentiring, Rawa Makmur dan Penurunan. Ratusan rumah di enam kelurahan tersebut terendam banjir antara 1 – 2 meter.

Kawasan terparah di Tanjung Agung, sebanyak 210 rumah sudah terendam. Pantauan RB tadi malam, warga sudah membuat tenda dan mengungsikan barang-barang dan anggota keluarganya di jalan raya yang lebih tinggi 4 meter dari pemukiman.

Menurut Warga RT 1, Nurlaili banjir sudah melanda kawasan ini sejak Sabtu (11/4) lalu. “Kemarin (11/4) jam delapan malam, air sudah naik hingga selutut orang dewasa. Tapi semakin malam air semakin naik pelan-pelan.

Karena awalnya hanya menggenangi halaman rumah, jam 3 subuh air sudah mulai naik ke teras rumah dan jam delapan pagi ini (12/4), air sudah masuk ke rumah warga dengan kedalaman hingga 1 meter,” tutur Nur yang memandangi rumahnya dari jalan.

Sementara Lurah Tanjung Agung, Saharudin kini tengah mencari bantuan tenda dan bahan makanan untuk warga yang mengungsi. Diperkirakan air akan terus naik selama hujan masih terus menggujur kota.

“Kita saat ini sedang berupaya mencari tenda bantuan, untuk berlindung warga. Tapi kayaknya hari ini, terpaksa warga nyari tenda sendiri dulu. Sebab karena hari libur, kita belum bisa sampaikan permohonan ke Dinas Sosial. Mungkin besok kebutuhan warga ini, akan kita sampaikan,” ujar Saharudin.

Akibat dari banjir ini, kata Saharudin Kantor Lurah Tanjung Agung dan TK Ade Irma Suryani yang berada di satu kawasan ikut terendam. Air merendam setengah bangunan tersebut.

Bahkan akses menuju kantor tersebut, terputus akibat ketinggian air sudah mencapai pinggang orang dewasa. Alhasil warga yang akan melewati jalan tersebut, terpaksa harus memutar lewat jalan Sukamerindu.

Sedang di RT 4 Sawah Lebar Baru, juga terendam banjir hingga kedalaman 1 meter. Sebanyak 8 rumah sudah terendam, dan sebagian sudah ada yang mengungsi ke rumah warga yang tidak kebanjiran. Diperkirakan, jika hujan kembali terjadi hingga malam hari. Rumah yang terendam akan bertambah.

Menurut Ketua RT 4, Bahrin air yang merendam pemukiman merupakan kiriman dari Sungai Bengkulu. Sehingga air naik sangat berlahan, meskipun hujan sempat berhenti. Ini memang kerap terjadi kalau hujan lebat 2 hari berturut-turut. Tapi ini banjir pertama yang terjadi ditahun 2009. Air ini dapat dipastikan naik lagi katanya, kalau hujan kembali terjadi.

“Kalau dulu banyak caleg yang nak ngasi bantuan, kalau kini la sudah pemilihan kecil kemungkinan ada caleg yang memberikan bantuan. Trapi meski demikian, saat ini kondisinya masih terkendali. Tapi kita tetap harus siap-siap,” tukasnya.

Kemudian di Bentiring tepatnya Perumahan Korpri, air juga mulai menggenangi jalan masuk perumahan tersebut. Dengan kedalaman sepinggang orang dewasa. Kawasan terparah yakni SD 89, yang sudah mulai terendam.

Hal serupa terlihat di Rawa Makmur, beberapa rumah sudah mulai terendam. Jalan raya yang tergenang air, mengakibatkan kendaran yang lewat antre. Ditambah banyaknya jalan berlubang, semakin membuat kendaraan yang lewat hati-hati.(jur)

Hujan 7 Jam, 210 Rumah Terendam

Terparah banjir di RT 1 Tanjung Agung dan lokasi TPS 1, kawasan paling rendah ini air sudah masuk ke rumah. Termasuk Kantor Lurah Tanjung Agung yang berada di belakang Kantor Camat Sungai Serut ini mulai dimasuki air usai magrib.

Ketinggian air sudah mencapai lutut orang dewasa. Jika melihat tren hujan yang tak kunjung reda, diperkirakan air akan terus naik. Menurut Lurah Tanjung Agung, Saharudin jika hujan berlangsung hingga 2 hari. Diperkirakan semua rumah bakal terendam. Sampai berita ini diturunkan, hujan deras masih menggujur Kota Bengkulu. Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi di Kelurahan Sukamerindu dan Rawa Makmur.


“Saat ini, air memang masih merendam halaman dan teras rumah. Kalau hujan di sini, pengaruhnya tak begitu besar. Tapi hujan di gunung kabarnya masih deras, kami khawatir banjir makin tinggi. Saya kira, warga sudah mulai mengemasi dan menaikkan barang-barang berharganya di atap rumah. Sekarang saya masih di lokasi. Untunglah sudah pemungutan suara, kalau tidak hanyut semua kotak dan surat suara. Soalnya lokasi TPS 1 sudah terendam,” ungkap Saharudin tadi malam.

Saat koran ini mendatangi Kelurahan Tanjung Agung terlihat sebagian jalan raya yang rendah, mulai digenangi air. Bahkan sebagian masyarakat sudah mengangkut barang-barangnya dan membuat tenda di jalan yang tinggi. Warga yang langganan terkena banjir tampak sigap. Sementara perempuan dan anak-anak sudah berada di pinggir jalan.

“Khawatir air bertambah tinggi, warga kita sekarang dalam posisi siaga. Begitu air naik, tinggal mengungsi ke jalan. Rumah panggung kini sudah mulai langka, kebanyakan masyarakat membangun rumah permanen yang rendah. Sehingga begitu hujan, langsung mengungsi ke jalan,” tukas Saharudin.

Beberapa RT di Sukamerindi juga tergenang air. Seperti RT 8 dan 9 yang sangat rawan. Menurut Lurah Sukamerindu, Emliyus air sudah menggenangi jalan dan halaman rumah warga. Tapi belum masuk ke dalam rumah.

“Tapi kita tetap siaga, takutnya hujan sampai besok pagi. Kalau itu terjadi air pasti akan masuk ke rumah warga. Tapi saat ini kita akan terus pantau kondisi air, jika memang akan naik lebih tinggi terpaksa warga akan mengungsi. Tapi semoga itu tidak terjadi, kita tunggu saja,” demikian Emilyus. (jur)

Warga Diminta Selamatkan Nipah, Rumbia dan Kelapa

Bupati Mukomuko meminta supaya masyarakat Kecamatan Kota Mukomuko bisa menyelamatkan tanaman nipah dan rumbia. Nipah yang tumbuh subur di pinggir sungai Selagan diminta bisa dimanfaatkan sebagai sumber usaha bagi masyarakat. Ia yakin, buah nipah bisa diolah menjadi makanan khas Mukomuko.

‘’Masyarakat jangan salah kiprah. Nanti melihat batang nipah yang menghijau di pinggir sungai, malah ditebang. Padahal buah nipah bisa diolah menjadi makanan yang enak dan bisa dipasarkan ke luar daerah.

Sama halnya dengan rumbia yang tumbuh di tengah sawah, jangan dimusnahkan. Karena rumbia bisa diambil sagunya untuk menjadi tepung. Tepung paracis dibuat dari sagu rumbia. Saya juga suka makan ondel-ondel sagu yang ditabur kelapa, seperti yang kerap dimasak oleh para orang tua kita dahulu,’’ kata Ichwan.

Selain membudidayakan nipah dan rumbia, Ichwan juga menyarankan petani memanfaatkan lahan tidurnya menanam kelapa. Para ibu-ibu rumah tangga, sejak kemarin diminta mulai menggalakkan pembuatan minyak goreng secara tradisional. Minyak goreng yang dibuat dari inti kelapa kampung itu, dinilainya tidak membahayakan kesehatan. Karena, minyak goreng yang dimasak secara tradisional bebas dari zat kimia pengawet.

‘’Kita sekarang ini benar-benar terlalu manja dan sudah menjadi orang pemalas. Padahal di sekeliling kita, berbagai potensi alam masih bisa kita olah untuk kebutuhan sehari-hari. Contohnya, kelapa di daerah kita ini yang cukup banyak, tapi dibiarkan saja busuk.

Coba buah kelapa itu diolah menjadi minyak goreng. Jangan lupa, tanah yang kosong di pinggiran areal persawahan saya minta ditanami dengan tanaman jenis jarak pagar, kepuh dan Camplung. Karena tanaman jenis itu diyakini bisa memberi penghasilan tambahan bagi petani,’’ demikian Ichwan.

Selasa, 14 April 2009

Gub Bantu Petani Sawah yang Terendam Banjir


Kunjungan gubernur itu tidak dengan tangan hampa, melainkan sudah mempersiapkan bantuan yang akan diberikan. Bagi petani yang terendam sawahnya, gubernur memberikan uang senilai Rp 30 juta. Dimana uang ini akan dibagikan masing-masing petani Rp 1 juta. Bantuan ini sendiri diserahkan kepada Lurah Tanjung Jaya, Arasman.

“Ini saya serahkan sebagai bantuan awal, nanti tolong didata lagi berapa sawah yang baru ditanam terendam banjir. Nanti akan kita bantu, tapi saya ingin data yang valid. Jadi nanti saya akan periksa kebenaran datanya,” ucap gubernur sambil dijawab dengan anggukan Lurah Tanjung Jaya.

Untuk korban banjir, gubernur membagikan 20 karung beras berisi masing-masing 15 Kg, 20 kardus mie instan dan 4 dus sarden. Bantuan bahan makanan ini akan terus dibagikan jika memang korban banjir kekurangan bahan makanan. “Stok makanan untuk bencana kita cukup. Jadi jika memang kurang akan kita droping lagi,” ujarnya.

Menurut gubernur, lokasi Tanjung Agung dan Tanjung Jaya memang daerah langganan banjir. Sebab, daerah itu ketinggiannya sudah hampir sama dengan tinggi air laut. Sehingga ketika intensitas hujan tinggi, air cepat sekali menggenangi.“ Kita memang prihatin dengan warga yang menjadi korban banjir. Tapi, banjir ini terjadi memang karena lokasinya yang rentan,” ujarnya.
Bagaimana dengan relokasi warga?

Menurutnya, itu merupakan solusi yang bagus. Sehingga lokasi ini bisa dijadikan areal persawahan. Hanya saja, masyarakat sendiri yang enggan pindah dari lokasi itu.

“Saya dengar masyarakat di sini (Tanjung Jaya, red) sudah pernah diberikan ganti rugi untuk pindah. Tapi, nyatanya mereka tetap bertahan di sana. Kalau kondisinya seperti itu, saya serba sulit,” tukasnya.

Bagi Duit ke Anak-anak
Dalam kesempatan itu, puluhan anak-anak yang mendekati gubernur kecipratan rezeki. Mereka dibagikan oleh gubernur, masing-masing Rp 50 ribu. Kontan saja, aksi bagi-bagi duit ini membuat anak-anak lainnya berdatangan dan meminta bagian juga. Akhirnya, seluruh anak-anak yang ada saat itu mendapatkan jatahnya. Terlihat anak-anak yang mendapatkan “angpau” dari gubernur bersorak kegirangan.

Senin, 13 April 2009

Banjir di Kota Bengkulu Meluas


Selain meredam lebih dari 1.000 rumah, banjir juga membuat perabotan warga serta sawah terendam. Tak hanya itu, jalan Tanjung Agung dan Bentiring tak bisa dilalui oleh kendaraan. Sedangkan jalan di Jl Kalimantan Rawa Makmur hanya tergenang air setinggi mata kaki.

Pantauan BE tadi malam di Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Semarang dan Rawa Makmur, warga sudah mengungsi di tempat-tempat aman. Mereka juga sudah mendirikan tenda-tenda. Salah seorang warga Tanjung Agung, Suraji mengatakan masyarakat sudah mengungsi sejak pagi. Menurutnya, air mulai menggenangi lokasi itu sejak kemarin dinihari.Saat ini (tadi malam) ketinggian air mencapai 2 meter. Sehingga jalan dari Tanjung Agung putus total, akunya.


Menurut Suraji, banjir ini merupakan banjir kiriman dari Taba Penanjung. Jika hujan tidak reda, banjir kali bisa seperti tahun 1989. Dimana ketinggian air mencapai 3 meter, kenangnya.

Terkait banjir yang meluas, Walikota H Ahmad Kanedi SH MH tadi malam sudah turun ke lapangan. Untuk tahap pertama, dia meminta warga untuk mengungsi sementara dan waspada terhadap munculnya air bah. Dia sendiri sudah menginstruksikan dinas terkait untuk memberikan bantuan kepada korban banjir.

Tak hanya Walikota, caleg DPRD Provinsi DP Kota dari Partai Barnas, Suharto SE tadi malam juga mengunjungi para korban banjir di Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Semarang dan Rawa Makmur. Kunjungan ini merupakan ungkapan simpati Suharto kepada korban.

Menang atau tidak dalam Pemilu Legislatif serta saya dipilih atau tidak oleh korban banjir, saya harus tetap konsisten terhadap perjuangan membela rakyat. Inilah yang membuat saya tergerak untuk turun, kata Suharto.

Kehadiran Suharto sendiri disambut baik para korban banjir. Mereka sangat senang dengan kehadiran caleg Barnas ini. Pak Harto ini benar-benar tulus. Dia datang bukan saat kampanye. Tapi saat kami kena bencana. Tak seperti caleg lain, ungkap salah seorang korban banjir bernama Suraji.

Senada dengan Suraji, salah seorang warga Rawa Makmur, Mulyono (45) mengatakan saat masa kampanye banyak posko parpol dan caleg yang muncul ketika korban banjir. Tapi saat ini, hanya Suharto saja yang nongol. Kemana yang lain, keluhnya. Banyak parpol dan caleg itu hanya peduli menjelang Pemilu saja. Habis Pemilu mereka lupa, terangnya.

Di sisi lain, Ketua DPD PKS Sujono mengatakan PKS belum turun melakukan bakti sosial. Hanya saja, dia telah menginstruksikan agar DPC PKS Muara Bangkahulu dan DPC PKS Sungai Serut melakukan bakti sosial. Yang jelas kita akan melakukan baksos dengan pengobatan gratis. PKS tidak bekerja menjelang Pemilu Legislatif dan Pilkada saja. Kita akan tetap turun melakukan baksos. Meski habis pemilu PKS tetap peduli, terang Sujono.

3 Hari Masih Hujan
Sementara itu hujan deras diperkirakan masih mengguyur Bengkulu hingga tiga hari kedepan. Sebab awan tebal masih menutupi wilayah Sumatera secara merata. Hal itu diterangkan staf teknisi BGM (Badan Meterologi Geofisika) Bengkulu Edi Siswahyudi. sehingga masyarakat diminta agar waspada. Belum ada tanda-tanda hujan mereda, ujarnya.

PPK Sungai Serut Siaga
Terkait banjir yang meluas, petugas PPK Sungai Serut malam tadi juga siaga. Mereka mulai menyelamatkan berkas-berkas administrasi pemilu. Karena dikhawatirkan banjir bisa meluap hingga ke Kantor PPK Sungai Serut yang terletak di Kantor Camat Sungai Serut.

Ketua PPK Sungai Serut Sugiri mengungkapkan pihaknya sudah berupaya menyelamatkan kotak suara dan arsip-arsip lain. Supaya tidak tergenang banjir. Kami dibantu oleh aparat kepolisian, ujarnya.(cw3/090)

Popular Posts