Adanya dugaan pencemaran air oleh logam berat perlu menjadi perhatian serius. Disinyalir, masalah tersebut telah menimbulkan korban. Untuk sementara, terungkap dua orang anak menderita autis sebagai dampaknya. Hal itu diungkapkan Wakil Kepala SLB Kota Bengkulu Siwi, S. Pd dan Pemilik Klinik Terapis Science Mei Simanungkalit.
Menurut Siwi, jumlah penderita autis di SLB sebanyak 15 orang. Penyebabnya, sambung Siwi, sangat beragam. Namun, satu orang diantaranya menderita autis akibat logam berat yang terkandung di dalam ikan. Indikasi penderita autis tersebut sebagai akibat tercemat logam berat adalah tumbuh uban dan rambut berwarna kemerahan.“Jelas, ikan bisa terkontaminasi logam berat itu sebagai akibat habitat ikan tersebut tercemar. Dikarenakan Bengkulu adalah daerah pertambangan, maka saya pikir lebih baik kita membeli ikan yang dipelihara di kolam, terutama bagi ibu yang hamil. Sebab, kita tidak tahu kandungan ikan yang diambil dari sungai dan laut,” kata Siwi.
Begitu pula diungkapkan Mei. Menurutnya, selalu ada penderita autis yang disebabkan kontaminasi logam. Dari 45 anak yang melakukn terapi di kliniknya, 4 diantaranya menderita autis akibat logam. Dari 4 orang tersebut, 1 orang diduga kuat menderita akibat pencemaran air.
“Saya tidak tahu air mana yang tercemar. Tapi yang jelas, semua penderita autis tersebut berdomisili di Kota Bengkulu,” kata Mei.
Kendati tidak menyebutkan angka detailnya, Mei mengatakan jumlah penderita autis di Bengkulu cukup banyak. Karenanya, dia menilai pemerintah harus memberikan perhatian serius terhadap masalah autis. Sehingga, penderitanya tidak bertambah banyak. “Walau bisa disembuhkan, tetapi lebih baik dilakukan pencegahan,” kata Mei.
Sementara itu, berdasarkan catatan Radar Bengkulu (baca Radar Bengkulu, 4/9/2010), Yayasan Ulayat Bengkulu pernah mengungkapkan adanya dugaan pencemaran air oleh logam berat. Ironisnya, air yang diduga tercemar tersebut merupakan sumber air baku PDAM. Berdasarkan hasil penelitian Ulayat kandungan besi (Fe2+) melebihi ambang batas dari Ketetapan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI No.907/MENKES/SK/VII/2002 dan Peraturan Daerah Provinsi Bengkulu No.6 Tahun 2005.
Kepmenkes dan Perda tersebut memperbolehkan 0,30 mg/liter kandungan besi untuk air baku minum. Namun, hasil penelitian Ulayat yang dilakukan di dua titik, Desa Penanding Bengkulu Tengah dan Sungai Intake di Surabaya menunjukkan kandungan besi di dua tempat tersebut masing-masing 0,70 dan 0,76 mg/liter.
“Ini jelas sangat tidak layak air tersebut untuk digunakan oleh masyarakat,” ujar Direktur Ulayat Oka Adriansyah melalui peneliti Imrodili didampingi Manager Program Vivin Susantie kepada Radar Bengkulu, Jumat (3/9).
Penelitian dilakukan berdasarkan metode ilmiah dengan melakukan survei lokasi, penentuan pengukuran debit air, kedalaman air dan lebar sungai diteliti terlebih dahulu. Penelitian dilakukan selama 3 bulan. “Kami jamin penelitian ini dilakukan secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Imrodili.
Penyebab adanya kandungan unsur logam berat tersebut diduga karena aktivitas pertambangan yang bersifat terbuka. Satu-satunya pertambangan terbuka di Bengkulu Tengah adalah tambang batubara. Selain unsur kimia yang berlebihan, unsur fisika yang terdapat dalam Air Bengkulu juga melebihi standar yang ditetapkan dalam Permenkes dan Perda.
Pertama, mengenai warna sungai yang melebihi standar maksimum yang ditetapkan. Dalam Perda dan Permenkes ditetapkan 15pt-Co untuk kebutuhan air minum, namun hasil penelitian menunjukkan 233 pt-Co dan 267 pt-Co. Kemudian nilai kekeruhan air sungai melebihi kapasitas. Dalam Perda dan Permenkes ditetapkan standarnya adalah 5NTU, namun penelitian yang dilakukan sebesar 365NTU dan 421 NTU.
Tingginya tingkat kekeruhan disebabkan pembukaan lahan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dan pembukaan pertambangan terbuka yang sering menyebabkan abrasi. “Sangat kompleks persoalannya, maka penyelesainnya juga harus dilakukan secara terpadu,” ujar Imrodili sembari menyatakan hasil penelitian Ulayat secara tidak langsung membantu PDAM untuk mengetahui keberadaan atau kandungan air PDAM yang sebenarnya.
Terkait hasil penelitian tersebut, Direktur PDAM Bengkulu Ikhsan Ramli, SE membantah air yang dikelola dan didistribusikan PDAM mengandung logam membahayakan. Sebelum didistribusikan ke pelanggan, kualitas air olahan PDAM selalu diukur dan diperiksa di laboratorium PDAM. “Kalau dari uji laboratorium kami, air sudah steril. Sebab, sudah dikasih obat-obatan. Bahkan sudah layak konsumsi,” ungkap Ikhsan. (cw15)>
Sumber :RADAR BENGKULU (22/12

Tidak ada komentar:
Posting Komentar