Minggu, 28 Juni 2009

Pengusaha Tolak Kenaikan PDAM

Pemilik Hotel Wedika dan RM Bengkulu, Wehelmi Ade Tarigan dengan tegas menyatakan keberatan. Ledeng kata dia, masih sering mati, hingga semua aktivitas terhambat.

Alhasil, pelanggannya mengeluh.Terutama pelanggan hotel. Untuk mandi terkadang harus menggunakan air sumur. Jika kondisi ini dibiarkan, pelanggannya menjadi tidak puas. Meski air PDAM sering macet, pembayaran air masih tetap mahal yakni mencapai Rp2 juta.

“Sudah sering mati, airnya keruh tapi bayaran air tetap saja mahal. Saya saja sering bayar air berkisar Rp 2 - 2,6 juta. Air yang kotor juga membuat pelanggan mengeluh. Terutama untuk mandi, sering mengakibatkan gatal-gatal. Sedang untuk mencuci pakaian justru membuat kain tambah keruh apalagi yang berwarna putih menjadi kucel,” keluh Wehelmi.
ika tarif PDAM naik, pihaknya berencana beralih menggunakan sumur bor. Karena kualitas airnya lebih baik dan lancar. Jika tarif ledeng naik, Wehelmi menduga berdampak pada kenaikan harga barang lainnya. Otomatis ia juga akan menaikkan sewa hotel dan harga makanan.

“Kita berharap, kenaikan tarif ini dipertimbangkan lagi. Sebab akan berpengaruh bagi pengusaha seperti kami. Kami akan semakin sulit. Karena bukan hanya tarif PDAM yang akan dibayar, listrik dan kebutuhan lainnya juga. Ditambah lagi tarif listrik juga terus merangkak naik. Pikirkanlah kami pengusaha ini,” ungkap Wehelmi.

Senada dengan pengusaha Laundry yang notabenenya pengguna air terbanyak. Sebab usaha laundry sepertui yang kita ketahui, sangat tergantung dengan air bersih. Jika air PDAM naik, maka mau tidak mau harga jasa laundry juga akan dinaikkan. Ini diungkap Pemilik Fresh Laundry, Hakim. Yang mengaku selama ini sengaja tidak menggunakan air PDAM. Sebab belum naik saja tarifnya sudah dirasa mahal. Selain itu kualitas airnya kurang baik.

“Kalau kita pakai air PDAM maka usaha ini akan tekor. Lebih mahal membayar ledeng, ketimbang menggunakan air sumur. Selain itu airnya yang sering keruh akan mempengaruhi kualitas hasil laundry. Jika ini terjadi maka pelanggan akan jera untuk menggunakan jasa laundry kita,” tukas Hakim.

Keluhan lainnya disampaikan Ibu Rumah Tangga, Asnawati, yang menyatakan meteran air di rumahnya sering bermasalah. Sebab meskipun meteran jalan, air tidak keluar. Akibatnya biaya ledeng malah bengkak. Ini merugikan masyarakat, terutama rumah tangga yang sangat membutuhkan air bersih setiap hari.

“Jadi saya rasa air PDAM belum layak untuk dinaikkan. Kalaupun mau naik, PDAM harus menjamin pelayanan yang maksimal serta kualitas air yang baik. Tapi kenaikan sebesar 65 persen tersebut tetap dinilainya terlalu besar. Sehingga itu dinilai belum wajar,” ujar Asnawati.

Direktur Utama PDAM Kota, M. Taufik, ST, MT menyatakan tujuan kenaikan ini untuk meningkatkan kulitas pelayanan dan kualitas air. Untuk memperbaiki kulaitas air serta kelancaran pengaliran air, PDAM membutuhkan biaya. Itu katanya akan didapat dari tarif yang dibayarkan oleh pelanggan.

“Kita sudah 7 tahun tidak melakukan kenaikan tarif, sedang semua komponen kebutuhan untuk PDAM semakin meningkat. Seperti listrik, selang dan perawatannya selalu naik. Maka dari itu kita butuh dana tambahan, agar pelanggan dapat merasakan pelayanan yang baik dari kita,” terang Taufik.

Diterangkan Taufik, tarif PDAM Bengkulu yang termurah dibandingkan dengan tarif daerah lain. Misalnya di Banjarmasin tarif yang berlaku saat ini untuk kelompok I kategori social umum, tarif tiap blok 0 - 10 meter kubik Rp 930. Untuk penggunaan 11 - 20 meter kubik Rp 1.850, lebih dari 20 meter kubik Rp 2.790. Sedang untuk Kota Bengkulu untuk kelompok I kategori sosial tarif tiap blok 0 - 10 meter kubik, 11 - 20 meter kubik dan lebih dari 20 meter kubik tarifnya Rp 690.

Terkait meteran yang jalan namun air tidak mengalir, kata Taufik akibat kerusakan meteran. Sehingga pelanggan seharusnya melaporkan hal tersebut ke PDAM. Sehingga dapat diperbaiki dengan segera. Kerusakan tersebut akibat meteran yang sudah lama.

“Itu sering kita sebut berangin. Maka seharusnya dilaporkan ke PDAM agar meteran tersebut diganti. Kita akan cek dulu apa penyebabnya. Karena kalau meteran jalan biasanya airnya keluar, kalau kejadiannya seperti itu artinya meterannya rusak,” demikian M. Taufik.(jur)
http://www.harianrakyatbengkulu.com/ver3/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=2519


Tidak ada komentar:

Posting Komentar