Featured Article

Jumat, 24 April 2009

Hari Bumi Untuk DAS Air Bengkulu



Menyambut Hari Bumi yang diperingati setiap setiap tanggal 22 April, sejumlah Organisasi Non Pemerintah, Pecinta Alam dan Pelajar serta Masyarakat Kota Bengkulu menggelar aksi bersih pantai dan melakukan penanaman pohondi muara Sungai Bengkulu.

Koordinator Lapangan, Hartanto "Ulayat Bengkulu" dilokasi kegiatan, mengatakan acara ini merupakan bentuk aksi nyata dan kampanye penyelamatan DAS Air Bengkulu. Kampanye yang khususnya ditujukan kepada masyarakat dan pemerintah agar berperan aktif menjaga lingkungan yang semakin memprihatinkan.

Khususnya di Kota Bengkulu yang semakin sulit untuk menakses air bersih akibat tercemarnya sungai Air Bengkulu namun masih dipakai untuk sumber air PDAM Katanya..

Tema Aksi yang diusung kali ini adalah "Marolah Kito Jago Bumi Kito yang satu"diharapkan bisa membangkitkan semangat kepedulian masyarakat dan pemerintah untuk bertindak lebih ramah terhadap Bumi dengan menjaga kelestarian lingkungan.

"Bumi ini hanya satu dan akan kita wariskan ke anak cucu kita, untuk itu agar semua penghuni bumi ini memahami itu, tindakan paling sederhana adalah tidak membuag sampah kesungai dan laut".

Kegiatan penanaman bakau di Muara Sungai Bengkulu yang melibatkan sejumlah organisasi non pemerintah diantaranya Ulayat Bengkulu, Walhi Bengkulu, PPMI, Forum Masyarakat DAS Air Bengkulu, Organisasi Mahasiswa pencinta Alam dan Organisasi pelajar pencinta Alam se Kota Bengkulu. Aksi ini diharapkan bisa memberikan perubahan bagi ekosistem kawasan DAS khususnya di Muara Sungai Air Bengkulu.

Ketua Forum Masyarakat Peduli DAS Air Bengkulu, Rusdan Tafsili mengatakan kerusakan DAS Air Bengkulu sangat memprihatinkan yang terbukti dari banjir tahunan yang melanda Kota Bengkulu meskipun hujan tidak mengguyur wilayah ini.

Ini karena hulu sungai sudah sangat parah kerusakannya sehingga hujan dihulu tidak bisa lagi ditampung dan seluruhnya terbawa ke hilir sehingga mengakibatkan banjir di Kecamatan Sungai serut, katanya.

Untuk Melestarikan DAS Air Bengkulu, Forum yang beranggotakan 41 orang ini sudah melakukan pembibitan 10 ribu pohon bakau secara swadaya dan direncanakan akan ditanami di sekitar muara sungai Air Bengkulu. (Suara Bengkulu)

Kamis, 23 April 2009

Air PDAM Tidak layak di konsumsi

Air yang dikonsumsi masyarakat Kota Bengkulu dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang berasal dari instalasi Surabaya sudah tidak layak minum, karena air dari Sungai Air Bengkulu itu memiliki tingkat kekeruhan lebih dari 300 NTU.

"Padahal ambang batas hanya 15 NTU," kata Direktur Yayasan Ulayat, Oka Adriansyah, di Bengkulu, Kamis (23/4).

Ia mengatakan air tersebut telah tercampur dengan dua zat berbahaya, yakni "cromium" dan "copper", yang jika dikonsumsi tubuh dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan penyakit kanker. "Dua zat ini masing-masing akibat pencucian batubara di hulu sungai dan copper dari limbah pengolahan karet," katanya.

Oka mengatakan, hal ini merupakan hasil studi yang dilakukan Yayasan Ulayat belum lama ini dan saat ini dipastikan tidak ada biota yang mampu hidup di sungai tersebut.

Dia mengatakan, saat ini terdapat tiga perusahaan tambang batubara yang beroperasi di hulu sungai Air Bengkulu dan terdapat dua perusahaan pengolahan karet yang membuang limbahnya ke sungai Air Bengkulu. "Ditambah lagi kerusakan daerah tangkapan air dan kebiasaan buruk masyarakat kita yang membuang sampah ke sungai,"katanya.

Sementara kata Oka, hampir 30 persen masyarakat Kota Bengkulu masih menggunakan sumber air Sungai Air Bengkulu untuk kebutuhan minum dan lainnya.

Menurut dia, salah satu upaya yang memungkinkan untuk merehabilitasi air yang berasal dari Sungai Air Bengkulu adalah merehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS). "Sehingga proses pembersihan air itu sendiri berlangsung normal, kondisi saat ini DAS Air Bengkulu sangat parah kerusakannya,"katanya.

Salah satu indikator rusaknya hulu sungai adalah banjir langganan yang melanda Kota Bengkulu, khususnya di Kecamatan Sungai Serut yang merupakan bantaran Sungai Air Bengkulu.

Popular Posts